Review Buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

 



Asmara sudah terbiasa membaca kode Morse dari sang kakak. Namun, kali ini, dia terkesiap ketika ikan pari yang melompat-lompat di permukaan laut mengeja L-A-U-T-B-E-R-C-E-R-i-T-A. Benarkah ini kode dari sang kakak? Apa yang hendak Kakaknya, Laut, ceritakan?

Pertama kali saya melihat buku ini, saya heran, mengapa buku ini bisa sangat diminati. Awalnya saya pikir, ini buku tentang menjaga kelestarian ekosistem laut. Eh, ternyata jauh sekali dari dugaan saya.

Begitu kita balik bukunya, sampul belakangnya memberikan petunjuk. Buku ini tidak membicarakan tentang isu lingkungan, tetapi tentang penculikan para mahasiswa aktivis 1998.


Sampul Belakang Novel Laut Bercerita (Sumber: Gramedia.com)



Latar Laut Bercerita : Kasus 1998 Penculikan Para Aktivis dan Mahasiswa

Untuk Fellow Readers yang belum tahu, tahun 1998 menjadi tahun yang penting bagi sejarah Republik Indonesia. Krisis ekonomi yang melanda seluruh negeri, memicu para aktivis dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Kerusuhan terjadi di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Pada tahun inilah, Presiden Soeharto yang telah 32 tahun berada di puncak kekuasaan negara, akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya.

Namun jauh sebelum itu, para mahasiswa telah memulai gerakan bawah tanah, dengan memulai diskusi-diskusi dan mengorganisir aksi-aksi protes terhdap kesewenang-wenangan pemerintah di kala itu. Dari para aktivis tersebut, banyak yang diculik dan dilepaskan. Namun, banyak juga yang tidak kembali.

Novel Laut Bercerita adalah novel fiksi. Namun, ceritanya diambil dari kisah nyata para saksi sejarah kejadian 1998. Setting tempat dan waktu terasa sangat nyata, sampai-sampai saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa sebagian dari apa yang diceritakan adalah fiksi.

Alur Cerita

Novel Laut Bercerita menggunakan jenis alur campuran. Masing-masing babnya tidak disusun berdasarkan urutan kronologis.

Cerita dimulai dari penangkapan Laut di bulan Maret 1998. Diceritakan bagaimana Laut disiksa secara keji oleh tiga orang tidak dikenal, yang diduga adalah kaki tangan pemerintah.

Kemudian cerita mundur ke tahun 1991 ketika Laut baru saja berkenalan dengan tokoh Kinan dan mulai tertarik pada dunia pergerakan mahasiswa. Di sanalah dia bergabung dengan dua organisasi. Alur berkembang dengan perkenalan berbagai tokoh yang terlibat di novel ini. Dari sini pembaca bisa membaca karakter masing-masing tokoh.

Kemudian kembali ke tahun 1998, ketika Laut dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Di sanalah dia dijadikan satu lokasi dengan beberapa teman seperjuangan yang lain.

Dilanjutkan flashback ingatan Laut, menceritakan bagaimana aksi-aksi mereka berkembang. Yang awalnya hanya berkumpul diskusi, menjadi aksi-aksi protes bersama petani. Dari sinilah diceritakan bagaimana awalnya mereka ditangkap dan disiksa aparat, kemudian menjadi buronan, hingga mereka harus lari keluar Jawa, namun akhirnya tertangkap kembali.

Sementara itu, di rumah keluarga Laut, ayah dan Ibunya masih menjalankan rutinitas seperti biasa. Namun, di baliknya, ada perasaan kepiluan luar biasa yang tertutupi karena kabar tentang Laut tidak kunjung tiba. Hal ini menambah kesedihan bagi Asmara. Tidak hanya kehilangan kakaknya, dia juga telah kehilangan ayah, ibu, dan kekasihnya walaupun secara raga mereka ada di hadapannya.


Tokoh

Biru Laut

Biru Laut adalah seorang mahasiswa UGM yang sangat suka membaca. Ketertarikannya pada dunia sastra membuka matanya pada ketidakadilan yang dirasakan rakyat dan membawanya pada ide-ide tentang pembebasan bangsa dari oligarki. Pertemuannya dengan Kinan membuatnya masuk ke dalam organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Walaupun, dikenal cenderung pendiam, namun karya-karya tulisannya telah tersebar di berbagai media di bawah nama-nama samaran.

Selain membaca, Laut adalah sosok yang pandai memasak. Dia bisa mengubah mie instan menjadi sajian yang jauh lebih enak dan juga membuat resep-resep baru.

Asmara Jati

Asmara adalah adik perempuan Laut satu-satunya. Meskipun bersaudara, keduanya memiliki sifat yang berbeda. Asmara sangat suka dengan dunia sains, dan akhirnya menjadi seorang dokter. Walaupun memiliki sifat yang sangat berbeda, Asmara dan kakaknya sangat dekat. Sejak kecil keduanya sering bermain sandi bersama.

Setelah hilangnya Laut, Asmara bukan saja merasakan kesedihan akibat kehilangan sang kakak, namun juga merasakan kesedihan akibat menyangkalan kedua orangtuanya.

Anjani

Ratih Anjani pertama kali bertemu dengan Laut ketika mereka hendak merenovasi rumah Seyegan yang akan digunakan para mahasiswa untuk berkumpul. Bukan hanya keelokan parasnya yang memukau Laut, namun juga mural-muralnya yang mampu bercerita. Semakin sering mereka melakukan kegiatan bersama, hubungan mereka semakin dalam. Anjani begitu terpukul ketika Laut hilang bersama sebelas orang lainnya.

Kinan

Kinan adalah sosok yang mengenalkan Laut dengan organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Dia adalah seorang sosok perempuan yang tangguh dan mumpuni dalam hal berpikir strategis. Argumentasinya mampu mendiamkan seorang Daniel yang sangat cerewet sekalipun. Karakternya begitu kuat di antara para mahasiswa hingga dia menjadi incaran para penculik. Ketika dia diculik, dia di tempatkan di tempat yang berbeda dari korban lain, hingga kabarnya tidak diketahui sama sekali.

Naratama

Naratma dicurigai sebagai pengkhianat di antara para mahasiswa. Sikapnya yang sering eksplosif dan out of the box sering menjadi alasan rekan-rekannya mengkambinghitamkan dia atas kegagalan beberapa rencana rahasia yang mereka lakukan. Apalagi dia tidak pernah hadir pada aksi-aksi yang berakhir gagal itu. Hanya Kinan yang percaya sepenuhnya pada Naratama. Pada akhir cerita, Naratama membuktikan bahwa bukan dialah pengkhianat itu.

Alex Perazon

Alex dari timur dikenal dengan suaranya yang memesona. Bahkan Asmara pun takluk pada suaranya. Awalnya Alex dikenal sebagai sahabat Laut dan tidak terlalu menonjol dalam cerita. Namun, perannya sebagai kekasih Asmara semakin lama semakin kuat dalam cerita ini. Apalagi setelah dia dibebaskan oleh para penculik, dan bergabung bersama Asmara di Komisi Orang Hilang.

Selain yang saya tuliskan di atas, ada juga tokoh orangtua Laut dan para korban penculikan lainnya, Sunu, Daniel, Bram, kakak-kakak Anjani, dan sebagainya yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu. Jadi baiknya, baca deh, bukunya. Hehe..




Sudut Pandang

Novel ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah ketika Laut ditangkap hingga akhir penculikan. Pada bagian ini, cerita ditulis dari sudut pandang Laut sebagai orang pertama.

Pada bagian kedua, Asmara mengambil alih sudut pandang cerita. Setelah hilangnya Laut, Asmara menyaksikan kesedihan yang luar biasa dan penyangkalan dari ayah, ibu, dan orang-orang di sekitarnya. Hingga akhirnya dia merasa harus turun tangan dan bergabung dengan Komisi Orang Hilang untuk mencari jejak-jejak kakaknya.

Amanat

Di buku ini, sang penulis, Leila S. Chudori mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam tentang perasaan-perasaan para korban penculikan dan juga keluarganya. Bahwa mereka lebih dari sekedar tulisan di berita. Leila mampu mengajak pembaca melihat mereka sebagai manusia yang memiliki pikiran dan perasaan, sama seperti para pembaca.

Pesan lain yang saya ambil dari buku ini adalah tentang penerimaan. Kita bisa saja sedang berduka. Namun, semakin cepat kita menerima dan membuka diri pada kenyataan, walaupun menyakitkan, orang-orang di sekitar kita akan lebih sedikit tersakiti.

Kesan yang Mendalam


Dari buku ini, saya mendapatkan kesan yang sangat mendalam. Sulit dipercaya jika yang tertuliskan di buku ini adalah fiksi, melihat seberapa dekatnya cerita ini dengan kejadian nyata tragedi 1998. 

Menurut saya, buku ini ditulis untuk orang-orang yang berhati kuat. Pasalnya, kekejian yang dilakukan oleh para penculik dan kata-kata sumpah serapah ditulis dengan blak-blakan.

Penulis juga menggambarkan kisah-kisah romantis antara para tokoh dengan gamblang. Oleh karena itu, sebaiknya buku ini tidak dibaca oleh anak-anak dan remaja. 

Di sisi lain, buku ini membuat saya jadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi di tahun 1998. Jika menimbang segala kompleksitas yang muncul pada masa itu, saya berharap penulis akan menuliskan juga beberapa tragedi lain yang terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.

Last warning untuk fellow readers, jangan baca buku ini menjelang tidur. Jangan sampai kisah ini menghantui mimpi-mimpimu. Selamat membaca!

Posting Komentar

0 Komentar