Sepotong Hati yang Baru
Sepotong Hati yang Baru adalah sebuah kumpulan cerita pendek karya Tere Liye tentang orang-orang yang patah hati. Diterbitkan tahun 2012, oleh penerbit Mahaka Publishing, buku yang saya baca ini adalah cetakan yang ke-27 tahun 2019. Buku ini merupakan salah satu buku dari seri Berjuta Rasanya.
Tere Liye menulis,”Beberapa cerita di buku ini terinspirasi dari legenda atau cerita lama dengan versi berbeda..” Meskipun demikian, menurut saya, cerita-cerita di buku ini dapat dinikmati sebagai masing-masing cerita yang berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan cerita lain. Bisa jadi, karena saya belum pernah mendengar cerita lama yang Tere Liye maksudkan, ya. Jadi, kalau pembaca merasa, “Kok, ceritanya ada yang mirip ya?”, nah, kan Tere Liye sudah memberikan disclaimer sebelumnya.
Buku ini terdiri dari delapan cerita pendek. Judul buku “Sepotong Hati yang Baru” diambil dari salah satu judul cerita pendek yang ada di buku ini.
Uniknya, masing-masing cerita pendek memiliki nuansa cerita yang berbeda. Cerita yang berjudul “Mimpi-Mimpi Sampek - Engtay” misalnya, membawa kita seperti masuk ke film-film kungfu shaolin yang fantastik dan dramatis.
Sedangkan cerita “Itje Noerbaja & Kang Djalil” seluruhnya ditulis dalam ejaan lama. Itu loh, yang huruf ‘c’ ditulis ‘tj’, huruf ‘y’ ditulis ‘j’, huruf ‘j’ ditulis ‘dj’, dan huruf ‘u’ ditulis ‘oe’. Cerita ini jadi membuat kita masuk ke era jadoel edjaan lama masa kolonialisme.
Karena antara cerita satu dan lain memiliki karakter yang sangat berbeda, saya lebih suka membaca satu bab untuk satu hari. Jika pada hari itu satu bab sudah selesai, saya tidak menyarankan untuk melanjutkan ke bab setelahnya. Tunggu besok agar tidak terbawa suasana dari bab sebelumnya.
Menariknya cerita dari buku ini adalah karena kita sudah tahu ada sesuatu yang membuat tokohnya patah hati. Kita jadi menerka-nerka pada bagian mana peristiwa itu akan terjadi. Siapakah yang akan patah hati, apakah tokoh wanitanya ataukah tokoh prianya? Lalu, bagaimana tokoh yang patah hati itu bangkit dari patah hatinya dan melanjutkan hidup? Akankah dia jatuh cinta lagi? Rasa-rasa penasaran ini yang membuat saya terus melanjutkan membaca buku ini hingga menyelesaikan kedua ratus enam halamannya.
Kalau ditanya cerita mana yang menjadi favorit saya, cerita pertama berjudul “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” mungkin adalah pilihan saya. Cerita ini mengundang tawa, meskipun ya sebetulnya jalan ceritanya sudah sangat bisa ditebak. Namun, tetap saja di akhir cerita saya bisa berkata,”Tuh, kan! Apa kubilang!” pada si tokoh.
Selain itu, sebetulnya cerita-cerita ini tidak begitu istimewa. Ringan dan, meskipun sedih, tidak telalu menguras emosi. Meskipun begitu, saya tetap sarankan minum cokelat hangat segera setelah menyelesaikan setiap bab di buku ini ‘to the dementors away’.
Bagi saya, meskipun buku ini tidak ‘wah!’, buku ini cocok dijadikan hiburan ringan. Baca satu bab di kala istirahat, dinikmati sambil makan pisang goreng dan minum minuman hangat, sesudah itu ditutup, tanpa perlu terlalu banyak dipikirkan.

Posting Komentar
0 Komentar
Yuk, bagikan pengalamanmu ketika membaca buku ini! Jangan tinggalkan tautan hidup ya!