2025 Wrapped: Yang Kubaca di Tahun 2025
Menilik laman Goodreads saya, tahun 2025 kemarin saya membaca 12 buku. Tidak semuanya akan saya bahas dalam artikel ini, terutama karena sebagian besar adalah serial webtoon atau manga yang masih on-going.
Jumlah 12 ini tidak banyak, tapi setelah saya lihat lagi apa yang saya baca, sebenarnya wajar jika jumlah yang saya capai memang lebih sedikit dari biasanya. Ada dua novel yang memang saya baca pelan-pelan untuk memastikan saya tidak segera bosan. Ada pula webtoon yang harus saya “paksa” baca pelan-pelan agar jam tidur saya tidak terganggu karena terlalu asyik membaca.
Daftar buku yang saya baca ini tidak memiliki tema khusus. Beberapa adalah buku yang sudah lama ada di wishlist belanja, sementara sisanya secara acak saya baca/pinjam lewat aplikasi. Ada juga satu artikel yang sengaja saya selipkan karena berhubungan dengan buku yang ingin saya baca.
Untuk yang sedang membutuhkan ide bacaan tahun ini, mungkin ada beberapa yang bisa diambil dari daftar pendek saya ini. Silakan menikmati!
Gamaran Vol. 16 (iPusnas, m&c!)
Buku pertama yang akan saya bahas adalah Gamaran karya Yousuke Nakamaru.
Manga ini saya pilih secara acak di aplikasi iPusnas. Mulanya saya ingin membaca dari volume pertama, tetapi entah kenapa iPusnas ini selalu nge-freeze kemudian nutup sendiri tiap kali saya mencoba membuka volume-volume awal. Alhasil, saya memuaskan diri dengan membaca langsung dari Volume 16.
Bingung?
Sudah pasti.
Saya tidak kenal karakternya, juga tidak paham tentang plotnya. Ada banyak istilah yang tidak familiar, terutama mengenai senjata dan ilmu bela diri. Namun saya paksakan juga membaca, meski tentu sulit menikmati alurnya.
Dari yang saya tangkap, Gamaran ini adalah serial manga tentang teknik berpedang dan klan-klan Jepang di masa keshogunan (Edo).
Seorang daimyo di Jepang pada saat itu ingin memilih salah satu anaknya sebagai penerus. Karena ia memiliki banyak anak, dibuatlah kompetisi berpedang. Yang menjadi peserta bukan anak-anaknya sendiri, tetapi samurai-samurai di bawah pimpinan mereka. Semacam jadi sponsor untuk para atlet. Anggapannya, kompetisi bela diri ini juga jadi ajang untuk melihat calon penerus mana yang punya backingan militer paling kuat.
Kompetisi bela dirinya sendiri brutal.
Banyak karakter yang terluka parah, bahkan hingga meninggal.
Masing-masing aliran bela diri sangat membanggakan teknik berpedang mereka dan ingin membuktikan bahwa teknik mereka-lah yang paling kuat.
Buat yang suka genre action dan sejarah, terutama sejarah Jepang, saya pikir akan menyukai serial manga satu ini. Tokoh utamanya—Gama Kurogane—punya kepercayaan diri yang tinggi dan sifat pantang menyerah yang bisa menjadi motivasi para pembaca. Kalau tertarik untuk membaca, bisa cek manga-nya di iPusnas atau beli secara langsung di Gramedia, Amazon, atau PlayBooks (digital).
Jujutsu Kaisen Vol. 10 (Paperback, Mizan)
Serial manga satu ini sedang jadi bahan koleksi adik saya. Karena baru mulai (dan kami cukup jarang beli buku beberapa tahun belakangan ini), koleksinya baru sampai Volume 10.
Saya sendiri sebenarnya sudah mengikuti serial manga dan anime-nya secara terpisah. Manga-nya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris hingga tamat dan bisa dibaca melalui aplikasi Manga Plus, sementara anime-nya tersedia di B Station dan iQIYI.
Nah, Jujutsu Kaisen Volume 10 ini bisa dibilang berada di pertengahan cerita, tepat sebelum Shibuya Arc (penyegelan Gojo Satoru) dibuka.
Fokusnya ada pada pertarungan Mechamaru (yang baru saja ketahuan identitasnya sebagai mata-mata) dan Mahito (salah satu antagonis dalam Jujutsu Kaisen).
Dua karakter ini bukan tokoh yang begitu saya perhatikan (😄), jadi bisa dibilang saya hanya membaca sambil lalu saja. Just to understand the plot better, so to speak.
Bagi yang ingin membaca, bisa beli terjemahan bahasa Indonesia-nya di Gramedia, atau, kalau ingin berhemat, bisa baca semua chapternya dengan Deluxe Subscription Plan melalui aplikasi Manga Plus.
Pakailah Masker dengan Benar (iPusnas, Watiek Ideo dan Nindiamaya)
Pakailah Masker dengan Benar adalah buku cerita bergambar untuk anak-anak yang saya baca lewat aplikasi iPusnas. Buku ini saya bacakan sebagai pengantar tidur siang untuk salah satu adik saya, yang saat ini baru berusia 6 tahun.
Buku pendek ini memberi penjelasan tentang pentingnya menggunakan masker dengan benar dan apa efeknya jika kita mengenakannya dengan salah. Diiringi dengan ilustrasi berwarna dan bahasa yang sederhana, buku ini mudah dipahami anak-anak dan bisa selesai dibaca kurang dari sepuluh menit (yang, tentunya, bisa membuat persiapan tidur adik saya lebih cepat selesai 😉)
Meski diterbitkan beberapa tahun lalu dan sepertinya memang diperuntukkan sebagai bacaan saat pandemi, saya rasa buku ini tetap bisa dibaca kapan pun ingin. Lagipula, menjaga kebersihan itu bukan sesuatu yang dilakukan saat pandemi saja.
Perjalanan Si Korona (iPusnas, Watiek Ideo dan Nindiamaya)
Sama seperti Pakailah Masker dengan Benar, Perjalanan Si Korona juga sebenarnya ditujukan sebagai bacaan anak di masa pandemi.
Kalau Pakailah Masker dengan Benar membahas cara dan mengapa kita harus memakai masker dengan benar, Perjalanan Si Korona fokus pada mengenal apa itu virus COVID-19, yang juga dikenal sebagai Korona di Indonesia.
Mulai dari asal, cara menular, dan dampaknya ke manusia, semua dijelaskan dengan bahasa yang simpel dan gambar yang menarik.
Buku ini bisa jadi bacaan untuk anak ketika guru, orang tua, dan saudara ingin mengajari anak tentang penyakit menular dan bagaimana cara mencegah penularannya.
Arok Dedes (Paperback, Lentera Dipantara)
Arok Dedes adalah novel karya Pramoedya Anata Toer yang mengangkat kisah Ken Arok dan Ken Dedes, penggulingan Tunggul Ametung, dan awal mula berdirinya Kerajaan Singasari.
Novel ini sebenarnya sudah saya beli sejak tahun 2017, tetapi baru “bisa” menyelesaikannya tahun ini.
Novelnya sendiri cukup tebal, ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, berganti-ganti perspektif dari Ken Dedes, Tunggul Ametung, Ken Arok, dan karakter-karakter lainnya.
Karena merupakan novel sejarah, novel ini berfokus pada situasi sosial dan politik pada masa itu. Tunggul Ametung, sebagai penguasa Tumapel, digambarkan sebagai seorang tiran yang memeras rakyat dan bersikap semena-mena terhadap istri-istri dan anak-anaknya.
Dari paragraf pertama, kita langsung dihadapkan dengan adegan penculikan Dedes, seorang putri brahmana terkenal. Dedes diculik bukan hanya karena kecantikan dan kecerdasannya, tapi juga karena ada ramalan bahwa ia akan menjadi ibu dari raja-raja di Jawa. Tunggul Ametung, sang tiran berkasta sudra yang haus kekuasaan, ingin menaikkan derajatnya dengan menikahi Dedes, yang berstatus brahmana (kasta tertinggi dalam masyarakat saat itu).
Sementara itu, di sisi lain, Arok tengah menghimpun kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung. Dengan tipu muslihat, ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai salah satu pengawal Tunggul Ametung. Mulai dari pertengahan akhir cerita, Arok bertemu dan bekerja sama dengan Ken Dedes untuk menyingkirkan sang penguasa Tumapel.
Satu yang saya perhatikan saat membaca novel ini adalah bahwa hubungan antara Ken Arok dan Ken Dedes tidak bisa disebut sebagai kisah cinta mutual. Memang sempat dideskripsikan bahwa tokoh utama wanita kita ini memang telah jatuh hati pada Ken Arok, yang cerdas dan diakui Dedes sebagai orang yang lebih mumpuni berbahasa Sanskerta. Namun sebaliknya, Ken Arok hanya memandang Ken Dedes dari sudut pandang pragmatis—bahwa Ken Dedes adalah seseorang yang ia perlukan untuk mengunci posisi pemimpin di Tumapel. Bahkan bisa dibilang, Ken Arok tak jauh beda dari Tunggul Ametung. Keduanya sama-sama melihat Ken Dedes sebagai trophy wife—sesuatu untuk dimenangkan demi melegitimasi kekuasaan masing-masing.
Novel ini diakhiri dengan naiknya Arok sebagai penguasa Tumapel, bersama kedua istrinya, Ken Dedes dan Ken Umang. Sementara Arok dan Umang terlihat cukup puas dengan posisi mereka, Ken Dedes justru dihantui perasaan waswas. Bukan hanya karena ia harus berbagi kasih dengan seorang wanita yang dikenal Arok jauh lebih lama, tetapi juga karena Dedes tengah mengandung anak Tunggul Ametung, yang baru saja dibunuh oleh Arok.
Bukan akhir yang positif, bisa dibilang, terutama bagi saya yang sejak awal memang ingin melihat pendirian Kerajaan Singasari dari sudut pandang Ken Dedes. Yang lebih membuat kecewa, tidak ada sequel untuk novel satu ini. Kita jadi tidak bisa melihat interpretasi lebih lanjut dari Pramoedya Ananta Toer tentang sejarah Kerajaan Singasari yang berdarah.
Death Note Vol. 1-2 (Paperback, m&c!)
Saya sedang dalam misi untuk mengoleksi manga Death Note mulai dari jilid pertama sampai jilid terakhir.
Dulu, waktu belajar bahasa Inggris, saya menggunakan Death Note terjemahan bahasa Inggris sebagai metode belajar. Jujur, saat itu, saya sempat kerepotan. Dibandingkan manga-manga pada umumnya, Death Note punya dialog dan monolog yang lebih banyak. Ditambah lagi, isinya kebanyakan analisis kasus dan penjelasan-penjelasan lain yang cukup panjang. Akibatnya, saya harus banyak menambah kosa kata dalam bahasa Inggris untuk bisa memahami alur ceritanya.
Perjuangan saya berbuah manis. Sejak selesai membaca Death Note dalam bahasa Inggris, saya jadi lebih percaya diri membaca buku-buku berbahasa asing lain. Rasanya menyenangkan ketika sadar bahwa saya punya opsi membaca yang lebih banyak karena kemampuan bahasa saya sudah meningkat.
Kenangan ini membuat Death Note menjadi salah satu manga kesayangan saya hingga saat ini. Meski sudah beberapa kali membaca, baik lewat persewaan komik maupun sekarang setelah bisa membelinya sendiri, saya masih menikmati sepak terjang Yagami Light (Kira) dan L yang berusaha melangkahi satu sama lain.
What the Most Famous Book About Trauma Gets Wrong (Artikel, Mother Jones)
Buat yang sering baca buku non-fiksi, mungkin pernah dengar buku The Body Keeps the Score. Buku yang ditulis oleh Van der Kolk ini membahas efek peristiwa traumatis terhadap fisik dan mental korban. Buku ini termasuk buku non-fiksi yang cukup populer dan “katanya” sering direkomendasikan psikolog dan terapis kepada klien masing-masing.
Artikel What the Most Famous Book About Trauma Gets Wrong, di sisi lain, berisi kritik terhadap buku The Body Keeps the Score, terutama mengenai bagaimana Van der Kolk menggambarkan korban kekerasan seksual (terutama perempuan dan anak-anak) sebagai seseorang yang nantinya akan kecanduan trauma. Dalam artikel yang diuggah di situs Mother Jones ini, Emi Nietfeld memprotes pengabaian Van der Kolk terhadap aspek kekerasan dan rusaknya sistem sosial yang menyebabkan kekerasan seksual dan penganiayaan bisa terjadi berulang kali terhadap korban bahkan setelah korban “diselamatkan”.
Nietfeld juga mengkritik tentang beberapa klaim medis Van der Kolk yang menggunakan “sitasi palsu”. Sebagai contoh, Van der Kolk menyebut sebuah artikel jurnal yang katanya membahas efek incest terhadap asma, meskipun di dalam artikel jurnal terkait tidak ada pembahasan mengenai asma maupun gangguan pernapasan lain.
Membaca kritik Nietfeld ini membuat saya sadar pentingnya membaca secara lebih kritis. Meskipun sebuah buku sudah melalui proses editing dan review oleh penerbit dan direkomendasikan banyak orang, bukan berarti semua yang ditulis dalam buku tersebut benar. Sebagai pembaca, kita punya kewajiban untuk selalu mengecek dan mengkaji ulang informasi yang telah kita dapatkan.
Berapa banyak dari kita yang, saat membaca sebuah hasil penelitian atau buku non-fiksi, mengecek pula referensi yang dicantumkan dalam artikel atau buku tersebut? Sudahkah kita memikirkan aspek bias dari penulis, penelitian yang kesimpulannya masih diperdebatkan, atau informasi yang sebenarnya sudah kadaluwarsa?
Di sisi lain, kritik Nietfeld ini juga mengingatkan saya bahwa sebagai penulis, kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita tulis. Pastikan bahwa referensi yang kita gunakan memang aktual dan selalu bandingkan dengan perspektif lain yang memiliki opini berseberangan. Apa pun yang kita tulis memiliki dampak terhadap pembaca. Karenanya, kita perlu hati-hati dalam memasukkan informasi ke dalam tulisan kita. Jangan sampai kita menggiring pembaca ke arah yang salah hanya karena kita lupa mengecek bias dalam meneliti referensi untuk tulisan kita.
Black Butler Vol. 31, 33-34 (Paperback, Elex Media Komputindo)
Setelah arc Zodiac dan kemunculan saudara kembar Ciel yang “bangkit dari kubur”, saya sempat berhenti mengikuti Black Butler. Bukan karena tidak tertarik, tetapi memang karena belum sempat.
Namun kemudian, adik saya membeli tiga volume Black Butler ini (melanjutkan dari koleksi terakhir saya), sehingga saya kembali menyempatkan diri untuk lanjut membaca.
Membaca tiga volume ini kembali mengingatkan saya mengenai hobi Yana Toboso untuk mengaitkan plot Black Butler dengan kejadian-kejadian bersejarah. Kali ini, topik yang dibahas adalah mengenai ketidakhiginiesin rumah sakit pada zaman perang yang membuat banyak korban perang gagal pulih meskipun telah dirawat. Selain itu, ada juga pentingnya penemuan golongan darah dan transfusi darah terhadap kemajuan teknologi kesehatan saat itu.
Meskipun mengandung begitu banyak unsur fantasi, Black Butler seringkali mengangkat isu-isu sosial yang kita lupakan. Banyak yang lupa bahwa kehidupan modern yang nyaman dan serba efisien saat ini dimulai dari penemuan-penemuan yang dulunya dianggap hanya mitos belaka.
Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik (Paperback, Tempo)
Buku Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik ini saya dapat dari kakak perempuan saya. Buku ini merupakan bagian dari serial Tempo, Bapak Para Bangsa.
Buku ini membahas riwayat hidup Agus Salim, mulai dari masa kecil, karier, hingga kehidupan personalnya bersama keluarga dan sanak-saudara.
Menggunakan bahasa khas wartawan koran yang lugas dan efisien, buku ini mudah dibaca dan jadi tidak semembosankan teks-teks sejarah pada umumnya.
Semua hal dijabarkan secara gamblang dan langsung ke inti, tapi kadang juga diselipi gaya menulis khas jurnalis Tempo yang humoris dan kadang sarkatis.
Menurut pengakuan tim redaksi, buku ini juga berusaha lebih netral dibandingkan dua buku sebelumnya di serial yang sama. Dalam dua buku sebelumnya, Tempo sempat dikritik karena terlalu mengagung-agungkan tokoh nasional yang mereka bahas. Di seri Agus Salim ini, Tempo tak melulu menyajikan sisi positif dan jasa Agus Salim untuk Indonesia, tetapi juga sisi negatif dan beberapa pemikirannya yang dianggap kontroversial.
Menurut saya, buku ini cocok untuk dibaca bagi para pemula dalam sejarah, yang ingin tahu lebih banyak tapi tidak ingin terlalu dalam masuk ke dalam segala teori konspirasi dan detail-detail yang masih diperdebatkan.
Couple Breaker (Webtoon, KMK dan Taegeon)
Couple Breaker adalah manhwa karya KMK dan Taegeon yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di kanal Webtoon. Manhwa ini bercerita tentang dua pasangan mahasiswa yang sedang mengalami keregangan dalam hubungan mereka.
GONG JOOAH dan BONG YOONSHIK sama-sama introver. Jooah adalah mantan penyanyi idola yang sudah lama berhenti berkarir. Namun ia masih sangat suka bernyanyi. Yoonshik, pacarnya, sangat mendukung karir bernyanyinya dan selalu menemani Jooah busking di jalan saat akhir pekan.
Sayangnya, Jooah punya kepercayaan diri yang rendah. Dia merasa dirinya kurang menarik. Dia juga merasa iri melihat YANG TAERIN dan CHU KYUNGMO, pasangan lain di kampus mereka, yang selalu terlihat stylish. Rasa iri itu membuat Jooah mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Taerin, bahkan mengkritik penampilan Yoonshik yang menurutnya tidak sekeren Kyungmo. Akibatnya, hubungan mereka menjadi renggang dan sering diisi pertengkaran.
Padahal, di sisi lain, Taerin dan Kyungmo tidak seharmonis yang orang-orang kira. Taerin, sebagai mahasiswi jurusan fashion, punya style unik dan selalu tampil percaya diri. Dia punya mimpi untuk memiliki merek fashion sendiri. Dalam usaha untuk membangun merek sendiri ini, Taerin sering menggunakan Kyungmo sebagai model untuk desain dan styling baju-bajunya.
Berkat bantuan Taerin ini, Kyungmo jadi bisa selalu tampil keren meskipun dirinya sendiri sebenarnya punya selera fashion yang buruk. Meski senang dipuji, diam-diam Kyungmo merasa rendah diri karena harus bergantung pada pacarnya.
Suatu hari, secara tidak sengaja, Kyungmo bertemu dengan Jooah. Dipicu dengan perasaan rendah diri dan ketidakpuasan terhadap pasangan masing-masing, keduanya mulai berkencan diam-diam.
Perselingkuhan antara Kyungmo dan Jooah inilah yang kemudian memicu Taerin dan Yoonshik untuk mengikuti program Couple Breaker—sebuah program di mana pemainnya akan bertukar pasangan dan menunjukkan bahwa godaan sekuat apapun tidak akan mematahkan loyalitas terhadap pasangan asli mereka. Berbekal perasaan ingin balas dendam, Taerin dan Yoonshik berpura-pura menjadi sepasang kekasih dan berencana untuk mengganggu hubungan Kyungmo dan Jooah.
Tak disangka, alih-alih terpaku pada para mantan pacar, Taerin dan Yoonshik justru jadi makin mengenal satu-sama lain. Bukannya jadi wahana balas dendam, program Couple Breaker ini malah membuat keduanya lebih dekat dan, perlahan-lahan, menjadi pasangan sungguhan yang saling percaya dan menghargai satu sama lain.
Dari manhwa satu ini, saya belajar tentang pentingnya menghargai diri sendiri. Jooah dan Kyungmo yang merasa rendah diri, terus-menerus merasa gelisah tentang hubungan baru mereka dan persepsi satu sama lain. Sementara itu, Taerin dan Yoonshik, yang punya kepercayaan diri tinggi dan punya pandanagan kuat tentang hidup masing-masing, bisa membangun hubungan yang lebih kuat dan stabil.
The Makioka Sisters (Paperback, Immortal Publishing)
The Makioka Sisters adalah novel Jepang karya Jun'ichirō Tanizaki. Novel ini menceritakan empat bersaudara keluarga Makioka, yaitu Tsuruko, Sachiko, Yukiko, dan Taeko. Keempatnya berasal dari salah satu keluarga aristokrat dengan sejarah panjang di Osaka.
Dulunya, keluarga Makioka adalah salah satu yang terkaya di kampung halaman mereka. Namun, sejak ibu mereka meninggal, bisnis keluarga mulai surut. Keadaan ekonomi mereka makin memburuk setelah ayah mereka juga meninggal dunia.
Suami Tsuruko, sebagai laki-laki tertua di keluarga Makioka, akhirnya menjadi kepala keluarga. Ia mengemban tanggung jawab atas dua adik iparnya yang belum menikah (Yukiko dan Taeko). Namun perselisihan sering muncul antara dia dan adik-adik iparnya itu. Mulai dari sifat Yukiko yang tertutup, kriteria calon suami yang tidak pernah sesuai dengan keinginan keluarga Makioka, dan perilaku Taeko yang dianggap terlalu liberal dan mengancam reputasi keluarga. Alhasil, demi mewujudkan pernikahan yang “ideal” bagi Yukiko dan Taeko, serta mempertahankan martabat keluarga, Sachiko, si anak kedua, seringkali harus jadi penengah.
Layaknya novel klasik pada umumnya, The Makioka Sisters adalah novel yang tidak bisa dibaca dalam sekali duduk. Temponya lambat dan paragrafnya panjang-panjang. Meski begitu, saya tetap menikmati ceritanya. Membaca The Makioka Sisters berasa seperti masuk ke dalam ruangan yang laju waktunya berbeda irama. Kita dibawa ke Jepang tahun 40-an dan melihat bagaimana sebuah keluarga aristokrat Jepang menghadapi terkikisnya nilai-nilai lama dan kebutuhan untuk mengikuti perubahan zaman.
Miss Dodol (Paperback, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
Buku ini sebenarnya punya adik saya. Karena belum bisa membaca, saya akhirnya membacakan buku ini untuknya. Mulanya agak ragu, mengingat level komik satu ini memang untuk usia SMP. Namun untungnya konten yang dibawakan cukup mudah dipahami dan familiar dengan keseharian kami, sehingga adik saya bisa tetap menikmati ceritanya.
Miss Dodol bercerita tentang Mimin, siswi SMP yang suka jajan dan ngonten. Setelah dimarahi Bunda karena terlalu boros saat jajan, Mimin pun memutuskan untuk membantu neneknya berjualan dodol lewat media sosial. Keputusan iseng ini berujung jadi bisnis yang membawa banyak manfaat. Tak hanya dapat uang saku tambahan, Mimin juga jadi belajar cara membuat konten yang menarik, mengembangkan ide bisnis, mengurus keuangan, dan membagi waktu secara efektif sebagai pelajar dan pemilik usaha.
Buku satu ini tak hanya inspiratif, tapi juga menyenangkan untuk dibaca. Meski baru TK, adik saya bisa memahami ceritanya dengan mudah. Plotnya juga sesuai dengan keseharian anak-anak sekarang yang serba digital. Lewat buku ini, anak-anak jadi paham bahwa media sosial itu bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga bisa menjadi sarana pendidikan dan bisnis.
Penutup
Tahun 2026 ini, goal membaca saya tidak muluk-muluk. Dari 12 buku, ingin saya naikkan jadi 13 buku. Tujuan utamanya bukan di seberapa sering saya membaca (karena saya membaca berbagai macam tulisan dalam berbagai format setiap hari), tapi lebih ke “menyelesaikan”.
Di dalam daftar reading in progress saya saat ini, paling tidak ada sepuluh bacaan yang sedang saya nikmati berbarengan. Medium membacanya juga berbeda-beda. Oleh karena itu, saya benar-benar ingin fokus menyelesaikan bacaan-bacaan yang sudah saya mulai.
Untuk yang juga melakukan reading challenge tahun ini tapi bingung buku mana yang hendak dibaca, semoga postingan ini bisa memberi sedikit inspirasi. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!
















Posting Komentar
0 Komentar
Yuk, bagikan pengalamanmu ketika membaca buku ini! Jangan tinggalkan tautan hidup ya!