Review The Girls of Riyadh karya Rajaa al Sanea

Cover depan buku The Girls of Riyadh karya Rajaa al Sanea

The Girls of Riyadh dibuka dengan sebuah email. Halaman demi halaman berlanjut saat email-email lain menyusul, membentuk rangkaian kisah tentang empat sahabat di Riyadh, Arab Saudi.

Apa yang email-email itu ceritakan?

Ada satu tema, dengan beberapa jawaban.

Sebagian besar email bercerita tentang perjodohan: para gadis yang dianggap sudah dewasa dipasangkan dengan pria-pria muda pilihan keluarga mereka.

Beberapa email lain bercerita tentang masa awal pernikahan, dinodai dengan antipati, kesalahpahaman, dan perselingkuhan terang-terangan.

Sejumlah email sisanya bercerita tentang patah hati dan afeksi yang tidak berbalas.

Dari sini, kita bisa melihat tema besarnya: gadis-gadis Riyadh yang sedang jatuh cinta, serta air mata dan tawa yang dihadirkan oleh perasaan mendamba itu.

"Untukmu kutulis jiwaku. Untuk setiap yang telah melewati usia delapan belas tahun. Atau dua puluh satu tahun di beberapa negara, dan enam tahun—bukan enam belas tahun—untuk tradisi di Saudi. Untuk yang memiliki cukup keberanian membaca realitas telanjang di dunia maya. Untuk yang memiliki sedikit kesabaran menjelajahi cakrawalanya. Untuk mereka yang bersedia melakukan beberapa eksperimentasi liar. Untuk para pemain cinta yang tak lagi mampu melihat kebaikan berwarna putih dan kejahatan berpakaian hitam."

 Kutipan dari The Girls of Riyadh, Bab 1, halaman 10.

Dekat Dengan Realita

Ada banyak novel modern yang mengambil topik tentang cinta. Banyak pula film yang mengangkat tragedi-tragedi romansa.

Apa yang berbeda dari The Girls of Riyadh?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, novel karya Rajaa al Sanea ini berlatar tempat di Arab Saudi. Tokoh-tokoh utamanya pun perempuan beragama Islam.

Beberapa topik yang dibahas di dalamnya, seperti seks, gaya hidup kebarat-baratan, dan penggambaran interaksi antara laki-laki dengan perempuan di era modern, membuat novel ini jadi sebuah "skandal besar" di Arab Saudi.

Apalagi, sejumlah tindakan yang dilakukan tokoh-tokoh dalam novel ini—seperti  pacaran, perselingkuhan, dan KDRT—adalah hal-hal yang dilarang di Islam, meski tentunya senantiasa terjadi di kehidupan nyata bahkan di antara pemeluk agama Islam sendiri.

Namun, kedekatan kisah ini dengan realita yang ada—juga usaha si penulis untuk melawan stereotip perempuan Arab Saudi—menjadikan The Girl of Riyadh sebuah karya literatur modern yang tidak bisa dilewatkan.

Mereka-Mereka Yang Mencari Cinta

Michelle, Qamrah, Lumeis, dan Shedim.

Inilah nama empat tokoh utama dalam The Girl of Riyadh. Meski Rajaa al Sanea, si penulis, mengaku mendapat inspirasi dari cerita-cerita yang ia dengar di pesta pernikahan kerabat dan teman-temannya, ia sudah sempat menjelaskan bahwa tokoh-tokoh yang ditulisnya bukanlah orang-orang di kehidupan nyata.

Melainkan, ia merangkai semua cerita yang pernah didengarnya itu ke dalam empat gadis Riyadh yang sudah bersahabat dari sekolah menengah. Keempatnya juga digambarkan berasal dari keluarga Muslim yang berkecukupan dan cenderung moderat, dengan menitikberatkan pada latar belakang Rajaa al Sanea sendiri.

Aspek "berkecukupan" dan "moderat" ini terlihat dari bagaimana kisah awalnya bermula di Riyadh, namun tidak semuanya berakhir di kota atau bahkan negara yang sama. Justru, pembaca diajak mengikuti ke mana perjalanan hidup membawa pergi keempat tokoh utama ini.

Dari Riyadh, kita bisa bertolak ke London, New York, hingga bahkan Dubai. Dari rumah keluarga, kita bisa dihadirkan ke apartemen-apartemen mewah di belahan lain dunia.

Perjalanan mereka juga tak melulu tentang ikut suami pindah ke luar negeri. Ada yang justru kabur dari kisah cinta yang tidak direstui. Ada pula yang pergi untuk berkuliah dan bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai negara.

Identitas buku Girls of Riyadh
Spesifikasi buku The Girls of Riyadh.

Kegelisahan Para Pemudi: Antara Cinta dan Jati Diri

Memfokuskan cerita pada usia para tokoh utama yang masih muda memberi ruang bagi Rajaa untuk menyelami pikiran-pikiran gelisah generasi modern.

Para gadis di usia dua puluh tahunan ini tengah merasa dikerangkeng oleh berbagai bentuk kecemasan. Mulai dari pendidikan tinggi, prospek karier, dan, tentunya, kehidupan pernikahan.

Ada yang masih ditawan ego sehingga enggan menerima pasangan dan gaya hidup yang dirasanya di bawah standar.

Ada pula yang begitu naif sehingga terpaksa remuk hatinya karena terhantam realita tentang hubungan "romantis" dengan pacar atau suami mereka.

Melihat bagaimana keempat tokoh utama kita berjuang menemukan tujuan hidup masing-masing dan berdamai dengan kehidupan mereka sekarang buat saya cukup membuka pemahaman.

Bahkan menurut saya, meski sempat dihujani kritik di Arab Saudi, The Girl of Riyadh justru bisa menjadi bentuk peringatan bagi perempuan-perempuan muda di luar sana yang sedang menghadapi kejamnya dunia nyata.

Novel ini akan menjadi pengingat bahwa cinta saja tidak cukup untuk memastikan keberlangsungan sebuah pernikahan.

Untuk membina hubungan suami-istri yang harmonis, harus ada kejujuran, komitmen, dan rasa hormat kepada satu sama lain.

Novel ini juga bisa menjadi penghibur bagi mereka-mereka yang tengah takut menghadapi pertambahan usia.

Perjalanan hidup Michelle, Qamrah, Lumeis, dan Shedim justru bisa menjadi bukti bahwa hidup perempuan itu tidak berhenti di usia dua puluhan. Justru, di titik inilah hidup kita yang sebenarnya sedang mulai dirancang.

Jadi, apabila ada pembaca dengan mimpi yang masih ingin dikejar, kenapa tidak coba dikejar sekarang? Percayalah, masih ada waktu untuk melakukannya. Tentunya, disertai dengan dukungan keluarga, teman, dan—jika ada—pasangan hidup kita masing-masing.



Dapatkan buku Girls of Riyadh dari Gramedia.com, dan dapatkan diskon dengan memasukkan kode voucher berikut: GCXSALED5 (berlaku hingga 31 Maret 2024). Kuota terbatas.

Posting Komentar

0 Komentar